Mengapa minyak bereaksi begitu cepat terhadap ketegangan geopolitik
Pasar minyak bereaksi seketika karena sebagian besar pasokan global melewati wilayah-wilayah sensitif. Salah satu yang terpenting adalah Selat Hormuz. Menurut US EIA, rata-rata sekitar 20 juta barel minyak per hari melewatinya pada 2024, yang setara dengan kira-kira 20% konsumsi minyak global. Pada paruh pertama 2025, tingkat kepentingannya tetap serupa. Ketika ada risiko kapal tanker akan tertunda atau lalu lintas melalui titik ini akan dibatasi, harga minyak biasanya langsung naik. Ini karena pasar tahu bahwa masalah di lokasi seperti itu dapat dengan sangat cepat memengaruhi Asia, Eropa, dan seluruh dunia.
Perang dan sanksi dapat mengubah pasokan pasar
Peristiwa geopolitik memiliki dampak paling kuat pada harga minyak ketika mengancam produksi atau ekspor itu sendiri. Ini dapat terjadi selama perang, revolusi, atau setelah sanksi diberlakukan. US EIA mencatat bahwa di antara guncangan minyak historis terbesar adalah embargo minyak Arab pada 1973 dan 1974, revolusi Iran, perang Iran-Irak, dan Perang Teluk pada 1990. Dalam semua kasus ini, pasar khawatir bahwa lebih sedikit minyak akan sampai ke konsumen. Sanksi dapat memiliki efek yang mirip dengan perang karena bahkan jika suatu negara terus memproduksi minyak, penjualan dan pengangkutannya menjadi jauh lebih rumit. Karena itu, pasar biasanya tidak menunggu terjadinya kekurangan yang nyata, tetapi bereaksi segera setelah risikonya mulai tampak serius.
Situasi saat ini antara AS, Israel, dan Iran serta dampaknya terhadap minyak
Inilah tepatnya yang kita lihat sekarang. Pada 9 Maret 2026, harga minyak melonjak tajam setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat, dan pasar mulai khawatir akan gangguan pasokan yang berkepanjangan dari kawasan tersebut. Harga minyak naik sekitar 25% dalam sehari, mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Brent sempat naik ke $119,50 per barel dan kemudian melepas sebagian kenaikannya. Menurut AP, setelah itu harganya bertahan di sekitar $106 per barel, sementara minyak mentah WTI AS turun kembali ke sekitar $103 setelah kenaikan tajam.* Alasan utamanya bukan karena dunia tiba-tiba membutuhkan jauh lebih banyak minyak, melainkan kekhawatiran bahwa konflik akan memengaruhi ekspor dan pengapalan di Teluk Persia. Karena sekitar seperlima konsumsi minyak dan produk minyak dunia melewati Selat Hormuz, setiap ketegangan di wilayah tersebut berdampak langsung pada harga.
Kesimpulan
Peristiwa geopolitik mendorong harga minyak karena menciptakan ketidakpastian seputar produksi, ekspor, dan transportasi. Pasar bereaksi paling sensitif ketika Timur Tengah atau rute pengapalan penting terancam. Sejarah menunjukkan bahwa perang, sanksi, dan krisis politik dapat menyebabkan lonjakan harga yang tajam, dan konflik saat ini antara AS, Israel, dan Iran adalah contoh yang jelas dari hal tersebut. Pelajaran utamanya sederhana. Harga minyak tidak hanya bergantung pada seberapa banyak yang diproduksi, tetapi juga pada seberapa aman minyak itu dapat sampai ke pasar dunia.
* Kinerja masa lalu bukan jaminan hasil di masa depan.